MAKALAH KOMUNITAS 1
SEGITIGA EPIDEMIOLOGI
Disusun oleh :
Kelompok 3
1.
PUTU JULI MASTRAWAN 10. SUAR MEGA PRAMITA
2.
RIA SUSILAWATI 11. SURNI INDANA
3.
RISA LEPI APRIANI 12. TINO KHAIRIAWAN
4.
RISKA AMELIA 13. WINDA ALFIANA
5.
RONI HARDIMANA JAYADI 14. YUDI ARDIANSYAH
6.
RONI SOFIANDANO AR 15. YUNIA PRATIWI
7.
SRI HANDAYANI 16.
M. ALI IBRAHIM
8.
SRI RIZKI ULFIANA 17. RIA NIANTY UTAMI
9.
SRI UMIATUL HASANAH
SEKOLAH
TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM
PRODI
S1 KEPERAWATAN
2014
KATA PENGANTAR
Puji Syukur pada Tuhan yang Maha Esa, merupakan satu kata yang pantas
kami ucapkan kepada Allah SWT, yang karena bimbingan-Nya maka kami dapat
menyelesaikan makalah keperawatan jiwa I dengan judul "SEGITIGA
EPIDEMIOLOGI".
penyusun ucapkan terima kasih kepada pihak terkait terutama anggota
kelompok 10 yang telah membantu dalam menghadapi berbagai tantangan dalam
penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih dan semoga makalah ini dapat memberikan sumbangsih positif
bagi kita semua.
Mataram,
27 April 2014
penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL 1
KATA
PENGANTAR 2
DAFTAR
ISI 3
BAB
I : PENDAHULUAN
A. Latar belakang 4
B. Tujuan . 4
BAB
II : PEMBAHASAN
A.
HOST, AGENT,
ENVIRONTMENT 6
B.
TIME,
PLACE, PERSON 11
C.
FREKUENSI,
DISTRIBUSI, DETERMINAT 21
BAB
III : PENUTUP
A.
Kesimpulan 22
B.
Saran
22
DAFTAR
PUSTAKA 23
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Konsep penyebab dan proses terjadinya penyakit
dalam epidemiologi berkembang dari rantai sebab akibat kesuatu proses kejadian
penyakit yakni proses interaksi antara manusia (pejamu) dengan berbagai
sifatnya (biologis, Fisiologis, Psikologis, Sosiologis dan antropologis) dengan
penyebab (agent) serta dengan lingkungan (Enviroment). (Nur nasry
noor,2000.Dasar epidemiologi,Rineka cipta.Jakarta)
Menurut John Bordon, model segitiga epidemiologi
menggambarkan interaksi tiga komponen penyakit yaitu Manusia (Host), penyebab
(Agent) dan lingkungan (Enviromet). Untuk memprediksi penyakit, model ini
menekankan perlunya analis dan pemahaman masing-masing komponen. Penyakit dapat
terjadi karena adanya ketidak seimbangan antar ketiga komponen tersebut. Model
ini lebih di kenal dengan model triangle epidemiologi atau triad epidemilogi
dan cocok untuk menerangkan penyebab penyakit infeksi sebab peran agent (yakni
mikroba) mudah di isolasikan dengan jelas dari lingkungan.
B. Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami
segitiga epidemiologi.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami proses
terjadinya penyakit.
3. Sebagai syarat dalam proses pembelajaran dalam mata
kuliah komunitas 1 semester IV keperawatan.
BAB I I
PEMBAHASAN
SEGITIGA EPIDEMIOLOGI
·
Segitiga epidemiologi merupakan konsep
dasar epidemiologi yang memberi gambaran tentang hubungan antara tiga faktor yg
berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya
·
Segitiga epidemiologi merupakan
interaksi antara Host (penjamu), Agent (penyebab) dan Environment (lingkungan)
Segitiga
Epidemilogi
·
Keadaan di masyarakat dikatakan ada
masalah kesehatan jika terjadi ketidak seimbangan antara Host, Agent dan
Environment
·
Pada saat terjadi ketidakseimbangan
antara Host, Agent dan Environment akan menimbulkan penyakit pada individu atau
masalah kesehatan di masyarakat
·
Segitiga epidemiologi adalah modal
utama yang harus dimiliki oleh seorang epideniolog. Ini merupakan
teori dasar yang terkenal sejak disiplin ilmu epidemiologi mulai digunakan di
dunia. Dalam bidang epidemiologi terdapat sedikitnya 3 segitiga
epidemiologi yang saling terkait satu sama lain yaitu, 1.
Agent-Host-Environment (AHE), 2. Person-Place-Time (PPT), 3. Frekuensi-
Distribusi- Determinan (FDD)
A.
HOST, AGENT, ENVIRONTMENT
1.
AGENT
yang disebabkan
oleh berbagai unsur seperti unsur biologis yang dikarenakan oleh mikro
organisme (virus, bakteri, jamur, parasit, protzoa, metazoa, dll), unsur
nutrisi karena bahan makanan yang tidak memenuhi standar gizi yang ditentukan,
unsur kimiawi yang disebabkan karena bahan dari luar tubuh maupun dari dalam
tubuh sendiri (karbon monoksid, obat-obatan, arsen, pestisida, dll), unsur
fisika yang disebabkan oleh panas, benturan, dll, serta unsur psikis atau
genetik yang terkait dengan heriditer atau keturun. Demikian juga dengan unsur kebiasaan
hidup (rokok, alcohol, dll), perubahan hormonal dan unsur fisioloigis seperti
kehamilan, persalinan, dll.
2.
HOST
Host atau penajmau ialaha keadaan
manusia yang sedemikan rupa sehingga menjadi faktor risiko untuk terjadinya
suatu penyakit. Faktor ini di sebabkan oleh faktor intrinsik. Factor penjamu yang
biasanya menjkadi factor untuk timbulnya suatu penyakit sebagai berikut :
1. Umur. Misalnya, usia lanjut lebih rentang unutk terkena
penyakit karsinoma, jantung dan lain-lain daripada yang usia muda.
2. Jenis kelamin (seks). Misalnya , penyakit kelenjar
gondok, kolesistitis, diabetes melitus cenderung terjadi pada wanita serta
kanker serviks yang hanya terjadi pada wanita atau penyakit kanker prostat yang
hanya terjadi pada laki-laki atau yang cenderung terjadi pada laki-laki seperti
hipertensi, jantung, dll.
3. Ras, suku (etnik). Misalnya pada ras kulit putih
dengan ras kulit hitam yang beda kerentangannay terhadapa suatu penyakit.
4. Genetik (hubungan keluarga). Misalnya penyakit yang
menurun seperti hemofilia, buta warna, sickle cell anemia, dll.
5. Status kesehatan umum termasuk status gizi, dll
6. Bentuk anatomis tubuh
7. Fungsi fisiologis atau faal tubuh
8. Keadaan imunitas dan respons imunitas
9. Kemampuan interaksi antara host
dengan agent
10. Penyakit yang diderita sebelumnya
11. Kebiasaan hidup dan kehidupan
sosial dari host sendiri
3.
ENVIRONMENT
Faktor lingkungan adalah faktor yang ketiga sebagai
penunjang terjadinya penyakit, hali ini Karen faktor ini datangnya dair luar
atau bisas disebut dengan faktor ekstrinsik. Faktor lingkungan ini dapat dibagi
menjadi:
1. Lingkungan Biologis (flora &
fauna)
Mikro organisme penyebab penyakit
Reservoar, penyakit infeksi (binatang, tumbuhan). Vektor pembawa penyakit umbuhan
& binatang sebagai sumber bahan makanan, obat dan lainnya
2. Lingkungan Fisik
Yang dimaksud dengan lingkunganfisik
adalah yang berwujud geogarfik dan musiman. Lingkungan fisik ini dapat
bersumber dari udara, keadaan tanah, geografis, air sebagai sumber hidup dan
sebagai sumber penyakit, Zat kimia atau polusi, radiasi, dll.
3. Lingkungan Sosial Ekonomi
Yang termasuk dalam faktor lingkungan soial ekonomi adalah
sistem ekonomi yang berlaku yang mengacu pada pekerjaan sesorang dan berdampak
pada penghasilan yang akan berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Selain itu
juga yang menjadi masalah yang cukup besar adalah terjadinya urbanisasi yang
berdampak pada masalah keadaan kepadatan penduduk rumah tangga, sistem
pelayanan kesehatan setempat, kebiasaan hidup masyarakat, bentuk organisasi
masyarakat yang kesemuanya dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan
terutama munculnya bebagai penyakit.
Portal of Entry dan Portal of Exit
·
Portal of entry: pintu masuknya Agent
kedalam Host contoh: oral, kulit, nafas, kemih
·
Portal of exit: pintu keluarnya Agent
dari Host contoh: nafas, anal, darah, cairan tubuh
·
Transmisi: vektornya?
Bagaimana
preventifnya?
·
Cuci tangan sebelum makan
·
Menolong partus memakai sarung tangan
·
Jangan meludah sembarang tempat
Karakteristik Segitiga Utama
Ketiga faktor dalam trias epidemiologi terus menerus dalam keadaan
berinterkasi satu sama lain. Jika interaksinya seimbarig, terciptalah keadaan
sehat. Begitu terjadi gangguan keseimbangan, muncul penyakit. Terjadinya
gangguan keseimbangan bermula dan perubahan unsur-unsur trias itu. Perubahan
unsur trias yang potensial menyebabkan kesakitan tergantung pada karakteristik
dan ketiganya dan interaksi antara ketiganya.
1. Karakteristik
Penjamu
Manusia mempunyai karakteristik tersendiri
dalam menghadapi ancaman penyakit, yang bisa berupa:
1. Resistensi.: kemampuan dan penjamu untuk
bertahan terhadap suatu infeksi. Terhadap suatu infeksi kuman tertentu, manusia
mempunyai mekanisme pertahanan tersendiri dalam menghadapinya.
2. Imunitas: kesanggupan host untuk
mengembangkan suatu respon imunologis, dapat secara alamiah maupun perolehan
(non-alamiah), sehingga tubuh kebal terhadap suatu penyakit tertentu. Selain
mempertahankan diri, pada jenis-jenis penyakit tertentu mekanisme pertahanan
tubuh dapat menciptakan kekebalan tersendiri. Misalnya campak, manusia
mempunyai kekebalan seumur hidup, mendapat munitas yang tinggi setelah
terserang campak, sehingga seusai kena campak sekali maka akan kebal seumur
hidup.
3. lnfektifnes (infectiousness): potensi penjamu
yang terinfeksi untuk menularkan penyakit kepada orang lain. Pada keadaan sakit
maupun sehat, kuman yang berada dalam tubuh manusia dapat berpindah kepada
manusia dan sekitarnya.
2. Karakteristik
Agen
1. Infektivitas: kesanggupan dan organisma
untuk beradaptasi sendiri terhadap lingkungan dan penjamu untuk mampu tinggal
dan berkembang biak (multiply) dalam jaringan penjamu. Umumnya diperlukan
jumlah tertentu dan suatu mikroorganisma untuk mampu menimbukan infeksi
terhadap penjamunya. Dosis infektivitas minimum (minimum infectious dose)
adalah jumlah minimal organisma yang dibutuhkan untuk menyebabkan infeksi.
jumlah ini berbeda antara berbagai spesies mikroba dan antara individu.
2. Patogenesitas: kesanggupan organisma untuk
menimbulkan suatu reaksi klinik khusus yang patologis setelah terjadinya
infeksi pada penjamu yang diserang. Dengan perkataan lain, jumlah penderita
dibagi dengan jumlah orang yang terinfeksi, Hampir semua orang yang terinfeksi
dengan virus smallpox menderita penyakit (high pathogenicthy), sedangkan orang
yang terinfeksi poliovirus tidak semua jatuh sakit (low pathogenicity).
3.
Virulensi:
kesanggupan organisma tertentu untuk menghasilkan reaksi patologis yang berat
yang selanjutnya mungkin menyebabkan kematian. Virulensi kuman
menunjukkan beratnya (severity) penyakit.
4.
Toksisitas: kesanggupan organisma untuk memproduksi
reaksi kimia yang toksis dan substansi kimia yang dibuatnya. Dalam upaya merusak jaringan untuk menyebabkan
penyakit berbagai kuman mengeluarkan zat toksis.
5. Invasitas: kemampuan organisme untuk
melakukan penetrasi dan menyebar setelah memasuki jaringan
6. Antigenisitas: kesanggupan organisma untuk
merangsang reaksi imunologis dalam penjamu. Beberapa organisma mempunyai
antigenisitas Iebih kuat dibanding yang lain. Jika menyerang pada aliran darah
(virus measles) akan lebih merangsang immunoresponse dan yang hanya menyerang
permukaan membrane (gonococcus).
3.
Karakteristik Lingkungan
1. Topografi: situasi lokasi tertentu, baik
yang natural maupun buatan manusia yang mungkin mempengaruhi terjadinya dan
penyebaran suatu penyakit tertentu.
2. Geograuis: keadaan yang berhubungan dengan
struktur geologi dan bumi yang berhubungan dengan kejadian penyakit.
B.
TIME, PLACE, PERSON
- Orang (Person)
Disini akan
dibicarakan peranan umur, jenis kelamin, kelas sosial, pekerjaan, golongan
etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga dan paritas.
- Umur
Umur adalah
variabel yang selalu diperhatikan didalam penyelidikan-penyelidikan
epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian didalam hampir semua
keadaan menunjukkan hubungan dengan umur.
Dengan cara ini
orang dapat membacanya dengan mudah dan melihat pola kesakitan atau kematian
menurut golongan umur. Persoalan yang dihadapi adalah apakah umur yang
dilaporkan tepat, apakah panjangnya interval didalam pengelompokan cukup untuk
tidak menyembunyikan peranan umur pada pola kesakitan atau kematian dan apakah
pengelompokan umur dapat dibandingkan dengan pengelompokan umur pada penelitian
orang lain.
Didalam
mendapatkan laporan umur yang tepat pada masyarakat pedesaan yang kebanyakan
masih buta huruf hendaknya memanfaatkan sumber informasi seperti catatan
petugas agama, guru, lurah dan sebagainya. Hal ini tentunya tidak menjadi soal
yang berat dikala mengumpulkan keterangan umur bagi mereka yang telah
bersekolah.
- Jenis Kelamin
Angka-angka
dari luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi dikalangan
wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi dikalangan pria, juga pada semua
golongan umur. Untuk Indonesia masih perlu dipelajari lebih lanjut. Perbedaan
angka kematian ini, dapat disebabkan oleh faktor-faktor intinsik.
Yang pertama diduga meliputi faktor
keturunan yang terkait dengan jenis kelamin atau perbedaan hormonal sedangkan
yang kedua diduga oleh karena berperannya faktor-faktor lingkungan (lebih
banyak pria mengisap rokok, minum minuman keras, candu, bekerja berat,
berhadapan dengan pekerjaan-pekerjaan berbahaya, dan seterusnya).
Sebab-sebab
adanya angka kesakitan yang lebih tinggi dikalangan wanita, di Amerika Serikat
dihubungkan dengan kemungkinan bahwa wanita lebih bebas untuk mencari
perawatan. Di Indonesia keadaan itu belum diketahui. Terdapat indikasi bahwa
kecuali untuk beberapa penyakit alat kelamin, angka kematian untuk berbagai
penyakit lebih tinggi pada kalangan pria.
- Kelas Sosial
Kelas sosial
adalah variabel yang sering pula dilihat hubungannya dengan angka kesakitan
atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat kehidupan seseorang. Kelas
sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur seperti pendidikan, pekerjaan,
penghasilan dan banyak contoh ditentukan pula oleh tempat tinggal. Karena
hal-hal ini dapat
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan
termasuk pemeliharaan kesehatan maka tidaklah mengherankan apabila kita melihat
perbedaan-perbedaan dalam angka kesakitan atau kematian antara berbagai kelas
sosial.
Masalah yang
dihadapi dilapangan ialah bagaimana mendapatkan indikator tunggal bagi kelas
sosial. Di Inggris, penggolongan kelas sosial ini didasarkan atas dasar jenis
pekerjaan seseorang yakni I (profesional), II (menengah), III (tenaga
terampil), IV (tenaga setengah terampil) dan V (tidak mempunyai keterampilan).
Di Indonesia
dewasa ini penggolongan seperti ini sulit oleh karena jenis pekerjaan tidak
memberi jaminan perbedaan dalam penghasilan. Hubungan antara kelas sosial dan
angka kesakitan atau kematian kita dapat mempelajari pula dalam hubungan dengan
umur, dan jenis kelamin.
- Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan
dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan yakni
a. Adanya
faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan kesakitan
seperti bahan-bahan kimia, gas-gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan dan sebagainya.
seperti bahan-bahan kimia, gas-gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan dan sebagainya.
b. Situasi
pekerjaan yang penuh dengan stress (yang telah dikenal sebagai faktor
yang berperan pada timbulnya hipertensi, ulkus lambung).
yang berperan pada timbulnya hipertensi, ulkus lambung).
c. Ada tidaknya
“gerak badan” didalam pekerjaan; di Amerika Serikat ditunjukkan
bahwa penyakit jantung koroner sering ditemukan di kalangan mereka yang
mempunyai pekerjaan dimana kurang adanya “gerak badan”.
bahwa penyakit jantung koroner sering ditemukan di kalangan mereka yang
mempunyai pekerjaan dimana kurang adanya “gerak badan”.
d. Karena
berkerumun di satu tempat yang relatif sempit maka dapat terjadi proses
penularan penyakit antara para pekerja.
penularan penyakit antara para pekerja.
e. Penyakit
karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan pekerjaan
di tambang.
di tambang.
Penelitian
mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan banyak dikerjakan di
Indonesia terutama pola penyakit kronis misalnya penyakit jantung, tekanan
darah tinggi, dan kanker.Jenis pekerjaan apa saja yang hendak dipelajari
hubungannya dengan suatu penyakit dapat pula memperhitungkan pengaruh variabel
umur dan jenis kelamin.
- Penghasilan
Yang sering
dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat penghasilan dengan pemanfaatan
pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan
kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli
obat, membayar transport, dan sebagainya.
- Golongan Etnik
Berbagai
golongan etnik dapat berbeda didalam kebiasaan makan, susunan genetika, gaya
hidup dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaan-perbedaan didalam angka
kesakitan atau kematian.
Didalam
mempertimbangkan angka kesakitan atau kematian suatu penyakit antar golongan
etnik hendaknya diingat kedua golongan itu harus distandarisasi menurut susunan
umur dan kelamin ataupun faktor-faktor lain yang dianggap mempengaruhi angka
kesakitan dan kematian itu.
Penelitian pada
golongan etnik dapat memberikan keterangan mengenai pengaruh lingkungan
terhadap timbulnya suatu penyakit. Contoh yang klasik dalam hal ini ialah
penelitian mengenai angka kesakitan kanker lambung.
Didalam
penelitian mengenai penyakit ini di kalangan penduduk asli di Jepang dan
keturunan Jepang di Amerika Serikat, ternyata bahwa penyakit ini menjadi kurang
prevalen di kalangan turunan Jepang di Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa
peranan lingkungan penting didalam etiologi kanker lambung.
- Status Perkawinan
Dari penelitian
telah ditunjukkan bahwa terdapat hubungan antara angka kesakitan maupun
kematian dengan status kawin, tidak kawin, cerai dan janda; angka kematian karena
penyakit-penyakit tertentu maupun kematian karena semua sebab makin meninggi
dalam urutan tertentu.
Diduga bahwa
sebab-sebab angka kematian lebih tinggi pada yang tidak kawin dibandingkan
dengan yang kawin ialah karena ada kecenderungan orang-orang yang tidak kawin
kurang sehat. Kecenderungan bagi orang-orang yang tidak kawin lebih sering
berhadapan dengan penyakit, atau karena adanya perbedaan-perbedaan dalam gaya
hidup yang berhubungan secara kausal dengan penyebab penyakit-penyakit
tertentu.
- Besarnya Keluarga
Didalam
keluarga besar dan miskin, anak-anak dapat menderita oleh karena penghasilan
keluarga harus digunakan oleh banyak orang.
- Struktur Keluarga
Struktur
keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular
dan gangguan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Suatu keluarga besar
karena besarnya tanggungan secara relatif mungkin harus tinggal
berdesak-desakan didalam rumah yang luasnya terbatas hingga memudahkan
penularan penyakit menular di kalangan anggota-anggotanya; karena persediaan
harus digunakan untuk anggota keluarga yang besar maka mungkin pula tidak dapat
membeli cukup makanan yang bernilai gizi cukup atau tidak dapat memanfaatkan
fasilitas kesehatan yang tersedia dan sebagainya.
- Paritas
Tingkat paritas
telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan si ibu maupun
anak. Dikatakan umpamanya bahwa terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang
berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi, terdapat asosiasi
antara tingkat paritas dan penyakit-penyakit tertentu seperti asma bronchiale,
ulkus peptikum, pilorik stenosis dan seterusnya. Tapi kesemuanya masih
memerlukan penelitian lebih lanjut.
- Tempat (Place)
Pengetahuan
mengenai distribusi geografis dari suatu penyakit berguna untuk perencanaan
pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi penyakit.
Perbandingan
pola penyakit sering dilakukan antara :
1. Batas daerah-daerah pemerintahan
2. Kota dan pedesaan
3. Daerah atau tempat berdasarkan
batas-batas alam (pegunungan, sungai, laut
atau padang pasir)
atau padang pasir)
4. Negara-negara
5. Regional
Untuk
kepentingan mendapatkan pengertian tentang etiologi penyakit, perbandingan
menurut batas-batas alam lebih berguna daripada batas-batas administrasi
pemerintahan.
Hal-hal yang memberikan
kekhususan pola penyakit di suatu daerah dengan batas-batas alam ialah :
keadaan lingkungan yang khusus seperti temperatur, kelembaban, turun hujan,
ketinggian diatas permukaan laut, keadaan tanah, sumber air, derajat isolasi
terhadap pengaruh luar yang tergambar dalam tingkat kemajuan ekonomi,
pendidikan, industri, pelayanan kesehatan, bertahannya tradisi-tradisi yang
merupakan hambatan-hambatan pembangunan, faktor-faktor sosial budaya yang tidak
menguntungkan kesehatan atau pengembangan kesehatan, sifat-sifat lingkungan
biologis (ada tidaknya vektor penyakit menular tertentu, reservoir penyakit
menular tertentu, dan susunan genetika), dan sebagainya.
Pentingnya
peranan tempat didalam mempelajari etiologi suatu penyakit menular dapat
digambar dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah, yang akan diuraikan nanti.
Didalam
membicarakan perbedaan pola penyakit antara kota dan pedesaan, faktor-faktor
yang baru saja disebutkan diatas perlu pula diperhatikan. Hal lain yang perlu
diperhatikan selanjutnya ialah akibat migrasi ke kota atau ke desa terhadap
pola penyakit, di kota maupun di desa itu sendiri.
Migrasi antar
desa tentunya dapat pula membawa akibat terhadap pola dan penyebaran penyakit
menular di desa-desa yang bersangkutan maupun desa-desa di sekitarnya.
Peranan migrasi
atau mobilitas geografis didalam mengubah pola penyakit di berbagai daerah
menjadi lebih penting dengan makin lancarnya perhubungan darat, udara dan laut;
lihatlah umpamanya penyakit demam berdarah.
Pentingnya
pengetahuan mengenai tempat dalam mempelajari etiologi suatu penyakit dapat
digambarkan dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah dan pada
menyelidikan-penyelidikan mengenai kaum migran. Didalam memperbandingkan angka
kesakitan atau angka kematian antar daerah (tempat) perlu diperhatikan terlebih
dahulu di tiap-tiap daerah (tempat):
1. Susunan umur
2. Susunan kelamin
3. Kualitas data
4. Derajat representatif dari data
terhadap seluruh penduduk.
Walaupun telah
dilakukan standarisasi berdasarkan umur dan jenis kelamin, memperbandingkan
pola penyakit antar daerah di Indonesia dengan menggunakan data yang berasal
dari fasilitas-fasilitas kesehatan, harus dilaksanakan dengan hati-hati, sebab
data tersebut belum tentu representatif dan baik kualitasnya.
Variasi
geografis pada terjadinya beberapa penyakit atau keadaan lain mungkin
berhubungan dengan 1 atau lebih dari beberapa faktor sebagai berikut :
1. Lingkungan fisis, kemis, biologis,
sosial dan ekonomi yang berbeda-beda dari
suatu tempat ke tempat lainnya.
suatu tempat ke tempat lainnya.
2. Konstitusi genetis atau etnis dari
penduduk yang berbeda, bervariasi seperti
karakteristik demografi.
karakteristik demografi.
3. Variasi kultural terjadi dalam
kebiasaan, pekerjaan, keluarga, praktek higiene
perorangan dan bahkan persepsi tentang sakit atau sehat.
perorangan dan bahkan persepsi tentang sakit atau sehat.
4. Variasi administrasi termasuk faktor-faktor
seperti tersedianya dan efisiensi
pelayanan medis, program higiene (sanitasi) dan lain-lain.
pelayanan medis, program higiene (sanitasi) dan lain-lain.
Banyaknya
penyakit hanya berpengaruh pada daerah tertentu. Misalnya penyakit demam
kuning, kebanyakan terdapat di Amerika Latin. Distribusinya disebabkan oleh
adanya “reservoir” infeksi (manusia atau kera), vektor (yaitu Aedes aegypty),
penduduk yang rentan dan keadaan iklim yang memungkinkan suburnya agen penyebab
penyakit. Daerah dimana vektor dan persyaratan iklim ditemukan tetapi tidak ada
sumber infeksi disebut “receptive area” untuk demam kuning.
Contoh-contoh
penyakit lainnya yang terbatas pada daerah tertentu atau yang frekuensinya
tinggi pada daerah tertentu, misalnya Schistosomiasis di daerah dimana terdapat
vektor snail atau keong (Lembah Nil, Jepang), gondok endemi (endemic goiter) di
daerah yang kekurangan yodium.
- Waktu (Time)
Mempelajari
hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar didalam analisis
epidemiologis, oleh karena perubahan-perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan
adanya perubahan faktor-faktor etiologis. Melihat panjangnya waktu dimana
terjadi perubahan angka kesakitan, maka dibedakan :
1. Fluktuasi jangka pendek dimana
perubahan angka kesakitan berlangsung
beberapa jam, hari, minggu dan bulan.
beberapa jam, hari, minggu dan bulan.
2. Perubahan-perubahan secara siklus
dimana perubahan-perubahan angka
kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan antara beberapa hari, beberapa
bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun.
kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan antara beberapa hari, beberapa
bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun.
3. Perubahan-perubahan angka kesakitan
yang berlangsung dalam periode waktu
yang panjang, bertahun-tahun atau berpuluh tahun yang disebut “secular trends”.
yang panjang, bertahun-tahun atau berpuluh tahun yang disebut “secular trends”.
- Fluktuasi Jangka Pendek
Pola perubahan
kesakitan ini terlihat pada epidemi umpamanya epidemi keracunan makanan
(beberapa jam), epidemi influensa (beberapa hari atau minggu), epidemi cacar
(beberapa bulan).
Fluktuasi
jangka pendek atau epidemi ini memberikan petunjuk bahwa :
1. Penderita-penderita terserang penyakit yang sama dalam waktu bersamaan atau
hampir bersamaan.
1. Penderita-penderita terserang penyakit yang sama dalam waktu bersamaan atau
hampir bersamaan.
2. Waktu inkubasi rata-rata pendek.
- Perubahan-Perubahan Secara Siklus
Perubahan
secara siklus ini didapatkan pada keadaan dimana timbulnya dan memuncaknya
angka-angka kesakitan atau kematian terjadi berulang-ulang tiap beberapa bulan,
tiap tahun, atau tiap beberapa tahun. Peristiwa semacam ini dapat terjadi baik
pada penyakit infeksi maupun pada penyakit bukan infeksi.
Timbulnya atau
memuncaknya angka kesakitan atau kematian suatu penyakit yang ditularkan
melalui vektor secara siklus ini adalah berhubungan dengan :
1. Ada tidaknya keadaan yang memungkinkan transmisi penyakit oleh vektor yang
bersangkutan, yakni apakah temperatur atau kelembaban memungkinkan
transmisi.
1. Ada tidaknya keadaan yang memungkinkan transmisi penyakit oleh vektor yang
bersangkutan, yakni apakah temperatur atau kelembaban memungkinkan
transmisi.
2. Adanya tempat perkembangbiakan alami
dari vektor sedemikian banyak untuk
menjamin adanya kepadatan vektor yang perlu dalam transmisi.
menjamin adanya kepadatan vektor yang perlu dalam transmisi.
3. Selalu adanya kerentanan
4. Adanya kegiatan-kegiatan berkala
dari orang-orang yang rentan yang
menyebabkan mereka terserang oleh “vektor bornedisease” tertentu.
menyebabkan mereka terserang oleh “vektor bornedisease” tertentu.
5. Tetapnya kemampuan agen infektif
untuk menimbulkan penyakit.
6. Adanya faktor-faktor lain yang belum
diketahui. Hilangnya atau berubahnya
siklus berarti adanya perubahan dari salah satu atau lebih hal-hal tersebut diatas.
siklus berarti adanya perubahan dari salah satu atau lebih hal-hal tersebut diatas.
Penjelasan
mengenai timbulnya atau memuncaknya penyakit menular yang berdasarkan
pengetahuan yang kita kenal sebagai bukan vektor borne secara siklus masih jauh
lebih kurang dibandingkan dengan vektor borne diseases yang telah kita kenal.
Sebagai contoh, belum dapat diterangkan secara pasti mengapa wabah influensa A
bertendensi untuk timbul setiap 2-3 tahun, mengapa influensa B timbul setiap
4-6 tahun, mengapa wabah campak timbul 2-3 tahun (di Amerika Serikat).
Sebagai salah
satu sebab yang disebutkan ialah berkurangnya penduduk yang kebal (meningkatnya
kerentanan) dengan asumsi faktor-faktor lain tetap. Banyak penyakit-penyakit
yang belum diketahui etiologinya menunjukkan variasi angka kesakitan secara
musiman.
Tentunya
observasi ini dapat membantu didalam memulai dicarinya etiologi
penyakit-penyakit tersebut dengan catatan-catatan bahwa interpretasinya sulit
karena banyak keadaan yang berperan terhadap timbulnya penyakit juga ikut
berubah pada perubahan musim, perubahan populasi hewan, perubahan
tumbuh-tumbuhan yang berperan tempat perkembangbiakan, perubahan dalam susunan
reservoir penyakit, perubahan dalam berbagai aspek perilaku manusia seperti
yang menyangkut pekerjaan, makanan, rekreasi dan sebagainya.
Sebab-sebab
timbulnya atau memuncaknya beberapa penyakit karena gangguan gizi secara
bermusim belum dapat diterangkan secara jelas.
Variasi musiman
ini telah dihubung-hubungkan dengan perubahan secara musiman dari produksi,
distribusi dan konsumsi dari bahan-bahan makanan yang mengandung bahan yang
dibutuhkan untuk pemeliharaan gizi maupun keadaan kesehatan individu-individu
terutama dalam hubungan dengan penyakit-penyakit infeksi dan sebagainya.
C.
FREKUENSI, DISTRIBUSI, DETERMINAT
- FREKUENSI
Frekwensi yang
dimaksudkan disini menunjuk pada besarnya masalah kesehatan yang terdapat pada
sekelompok manusia/masyarakat. Untuk dapat mengetahui frekwensi suatu masalah
kesehatan dengan tepat, ada 2 hal yang harus dilakukan yaitu :
·
Menemukan masalah kesehatan yang
dimaksud.
·
Melakukan pengukuran atas masalah
kesehatan yang ditemukan tersebut.
- DISTRIBUSI
Yang dimaksud
dengan Penyebaran / Distribusi masalah kesehatan disini adalah menunjuk kepada
pengelompokan masalah kesehatan menurut suatu keadaan tertentu. Keadaan
tertentu yang dimaksudkan dalam epidemiologi adalah menurut Ciri – ciri manusia
( PERSON), t tempat ( PLACE ), dan waktu ( TIME )
- DETERMINANT
Yang dimaksud disini adalah menunjuk
kepada factor penyebab dari suatu penyakit / masalah kesehatan baik yang
menjelaskan frekuensi, penyebaran atau pun yang menerangkan penyebab munculnya
masalah kesehatan itu sendiri. Dalam hal ini ada 3 langkah yang lazim dilakukan
yaitu :
·
Merumuskan Hipotesa tentang penyebab
yang dimaksud.
·
Melakukan pengujian terhadap rumusan
Hipotesa yang telah disusun.
·
Menarik kesimpulan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Segitiga epidemiologi merupakan
konsep dasar epidemiologi yang memberi gambaran tentang hubungan antara tiga
faktor yg berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya
Dalam bidang epidemiologi terdapat
sedikitnya 3 segitiga epidemiologi yang saling terkait satu sama
lain yaitu, 1. Agent-Host-Environment (AHE), 2. Person-Place-Time (PPT),
3. Frekuensi- Distribusi- Determinan (FDD)
B.
Saran
Dengan melalui makalah ini
kami selaku penyusun mengharapkan khususnya semua mahasiswa
keperawatan STIKES MATARAM dapat mengetahui serta memahami tentang Konsep
Segitiga Epidemiologi
dalam keperawatan komunitas.
DAFTAR PUSTAKA